cover Brosur Little PIMHai Sahabat KBI, 

Belakangan ini, dunia internet terhenyak dengan sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Neurology yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa lebih dari satu bahasa (atau nama kerennya bilingualisme) dapat menunda efek pikun/demensia bagi semua orang. Sebelumnya, peneliti lain menarik kesimpulan yang sama pada masa lalu, hanya saja belum mendetail seperti studi zaman sekarang, dan objek penelitiannya juga terbilang masih sempit. Anda bisa membaca penelitian berbahasa Inggris tersebut dari sumber ini.

Pertanyaan yang menarik sekarang adalah kapan sebaiknya orang belajar bahasa, sehingga mengurangi risiko pikun itu tadi? Belajar bahasa kedua (selain bahasa ibu) akan memiliki pengaruh yang baik bagi perkembangan dan kemampuan otak anak Anda SEKARANG! Berikut adalah beberapa fakta menyenangkan tentang otak bilingual dan perkembangan bahasa:

1. Anak-anak yang belajar beberapa bahasa dapat membuat kesalahan tata bahasa pada awalnya, tapi itu tidak akan berlangsung lama. Sama seperti anak-anak monolingual terkadang membuat kesalahan ketika mereka mulai mempelajari struktur bahasa, begitu juga anak-anak bilingual atau multilingual. Ini semua adalah bagian dari proses pembelajaran bahasa.

2. Status sosial-ekonomi memiliki efek lebih besar pada kosakata dibandingkan kemampuan bilingualisme itu sendiri. Misalnya: anak-anak yang memiliki orang tua yang mampu secara finansial dapat menguasai lebih banyak kosakata bahasa asing dibandingkan anak-anak yang kurang mampu, berkat akses pendidikan dan fasilitas yang mereka miliki. Tapi teori tersebut tidak berbanding lurus bahwa anak-anak kaya lebih pintar berbahasa jika dibandingkan dengan anak-anak yang kurang mampu. Anda juga tidak perlu khawatir, beberapa orang tua takut bahwa menambahkan bahasa kedua ke dalam pendidikan awal anaknya akan mengerdilkan perkembangan bahasa pertama mereka. Akan tetapi, lebih banyak bukti menunjukkan bahwa multilingualisme merupakan indikator signifikan dari bagaimana kosakata anak akan berkembang. Baca selengkapnya di salah satu tautan New York Times ini.

bilde3.Di sisi lain, berbicara bahasa kedua membantu menunda pikun/dementia terlepas dari tingkat pendidikan (tidak peduli Anda atau anak-anak Anda buta huruf atau tidak, tidak peduli Anda atau anak-anak Anda kuliah tinggi atau tidak). Studi baru ini menunjukkan bahwa bahkan orang-orang yang buta huruf menuai manfaat yang sama dari kemampuan bilingualisme: penundaan demential terjadi 5 tahun lebih lama, sama halnya dengan anak-anak berpendidikan formal.

Sumber:https://www.littlepim.com/bilingual-brain/

For more info and updates

facebooktwitteryoutube

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation